INDONEWS MEDIA · LAPORAN NASIONAL

Berita Indonesia, lebih dekat dengan fakta.

Indonesia · laporan

Hari Bahasa Isyarat Internasional 23 September: Sejarah dan Tujuannya

Peringatan Hari Bahasa Isyarat Internasional setiap 23 September menyoroti pentingnya bahasa isyarat untuk hak dan inklusi masyarakat Tuli. Simak sejarah dan tu

Foto ilustrasi IndoNews · sumber gambar dicantumkan bila tersedia.

Bahasa merupakan elemen fundamental dalam kehidupan manusia, berfungsi sebagai alat komunikasi, akses informasi, pendidikan, dan interaksi sosial sehari-hari. Bagi komunitas Tuli, bahasa isyarat menjadi sarana utama untuk berkomunikasi dan memenuhi hak-hak mereka.

Setiap tanggal 23 September, dunia memperingati Hari Bahasa Isyarat Internasional (International Day of Sign Languages). Penetapan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran global akan pentingnya bahasa isyarat dalam menjamin hak asasi manusia bagi masyarakat Tuli. Untuk tahun 2026, peringatan ini mengusung tema “Declaring Deaf People’s Human Rights”, yang menyerukan realisasi penuh hak-hak masyarakat Tuli di berbagai aspek kehidupan, termasuk melalui akses terhadap bahasa isyarat nasional.

Latar Belakang Penetapan Hari Bahasa Isyarat Internasional

Berawal dari Federasi Tuli Dunia (WFD)

Pemilihan tanggal 23 September sebagai Hari Bahasa Isyarat Internasional didasarkan pada hari berdirinya World Federation of the Deaf (WFD) pada 23 September 1951. Organisasi internasional ini secara konsisten memperjuangkan hak-hak masyarakat Tuli serta pelestarian bahasa dan budaya Tuli di seluruh dunia. Pada tahun 2026, WFD akan merayakan ulang tahun ke-75, menandai salah satu alasan pentingnya perayaan Hari Bahasa Isyarat Internasional tahun tersebut.

Diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa

Majelis Umum PBB secara resmi menetapkan 23 September sebagai Hari Bahasa Isyarat Internasional melalui Resolusi A/RES/72/161. Resolusi ini diadopsi secara konsensus pada 19 Desember 2017, dengan dukungan dari 97 negara anggota PBB dan disponsori oleh Antigua dan Barbuda. Peringatan pertama Hari Bahasa Isyarat Internasional kemudian dilaksanakan pada 23 September 2018, sebagai bagian dari International Week of the Deaf yang telah rutin diselenggarakan sejak tahun 1958.

Tujuan Utama Peringatan Hari Bahasa Isyarat Internasional

Peringatan tahunan ini memiliki beberapa tujuan krusial:

Meningkatkan Pemahaman tentang Bahasa Isyarat

Salah satu tujuan utama adalah memperluas pemahaman publik mengenai signifikansi bahasa isyarat dan perannya dalam kehidupan masyarakat Tuli. PBB menegaskan bahwa bahasa isyarat adalah bahasa alami dengan struktur linguistiknya sendiri, bukan sekadar gerakan tangan pengganti bahasa lisan.

Mendukung Hak Asasi Masyarakat Tuli

Akses terhadap bahasa isyarat merupakan kunci pemenuhan hak-hak dasar masyarakat Tuli, meliputi hak atas pendidikan, informasi, layanan publik, dan partisipasi penuh dalam kehidupan sosial. Resolusi PBB secara khusus menggarisbawahi pentingnya akses dini terhadap bahasa isyarat dan layanan terkait, termasuk pendidikan berkualitas.

Melindungi Identitas dan Budaya Tuli

Bahasa isyarat juga merupakan bagian integral dari identitas dan budaya masyarakat Tuli. PBB mengakui urgensi untuk menjaga bahasa isyarat sebagai komponen penting dari keragaman linguistik dan budaya global.

Mendorong Pendidikan Inklusif

Pemanfaatan bahasa isyarat dalam sistem pendidikan esensial untuk menyediakan kesempatan belajar yang setara bagi peserta didik Tuli. Di Indonesia, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) pada Juli 2026 akan menyelenggarakan pelatihan Al-Qur’an Bahasa Isyarat bagi para pendidik, sebagai upaya memperkuat layanan pendidikan yang lebih inklusif bagi peserta didik dengan disabilitas rungu.

Bahasa Isyarat di Indonesia

Indonesia memiliki Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) yang dikembangkan untuk memfasilitasi komunikasi dan pembelajaran bagi masyarakat Tuli. Kemendikdasmen juga menyediakan Kamus SIBI yang berisi kosakata lengkap dengan gambar dan deskripsi pembentukan isyarat.

Selain SIBI, Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) juga banyak digunakan oleh komunitas Tuli di berbagai daerah. Penggunaan bahasa isyarat nasional ini krusial untuk memperluas akses komunikasi dan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Tuli. Upaya peningkatan akses pendidikan berbasis bahasa isyarat terus berlanjut, termasuk melalui pelatihan bagi pendidik yang diselenggarakan Kemendikdasmen pada tahun 2026 untuk memperkuat kompetensi dalam pembelajaran inklusif bagi peserta didik disabilitas rungu.

Data Global Bahasa Isyarat

PBB mencatat bahwa terdapat lebih dari 70 juta orang Tuli di seluruh dunia, yang secara kolektif menggunakan lebih dari 300 bahasa isyarat yang berbeda. Mayoritas, lebih dari 80 persen, dari populasi Tuli ini tinggal di negara-negara berkembang. Data ini menyoroti keragaman luas bahasa isyarat, yang tidak bersifat universal; setiap negara atau komunitas dapat memiliki bahasa isyarat dengan kosakata dan struktur yang unik.

Pada tahun 2026, Hari Bahasa Isyarat Internasional juga bertepatan dengan peringatan 20 tahun adopsi Convention on the Rights of Persons with Disabilities (CRPD) serta ulang tahun ke-75 WFD.

Dengan demikian, peringatan Hari Bahasa Isyarat Internasional setiap 23 September bukan hanya momentum untuk mengenal bahasa isyarat, tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya akses komunikasi, pendidikan, informasi, dan hak-hak masyarakat Tuli. Peringatan ini sekaligus menjadi dorongan untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif bagi semua pengguna bahasa isyarat.

Konten belum tersedia.

Artikel ini belum memiliki isi yang dapat dibaca.