Pemerintah Indonesia masih menanti kesepakatan akhir mengenai biaya penerbangan untuk ibadah haji tahun 2027. Komponen ini menjadi satu-satunya yang belum final dalam pembahasan dengan Komisi VIII DPR RI, meskipun biaya akomodasi hotel dan makanan telah disepakati.
Menteri Haji dan Umrah RI (Menhaj RI), Mochamad Irfan Yusuf, yang akrab disapa Gus Irfan, menyampaikan hal ini usai menghadiri acara Kick Off Manasik Haji Nasional dan Expo UMKM di GOR Wilis Kota Madiun pada Jumat (25/9/2026).
Perbedaan Tarif Maskapai Penerbangan
Gus Irfan menjelaskan bahwa terdapat perbedaan tarif yang cukup signifikan antara dua maskapai yang ditunjuk untuk mengangkut jemaah haji Indonesia, yaitu Garuda Indonesia dan Saudi Airlines. Garuda Indonesia mengajukan tarif sekitar Rp 38 juta per jemaah, sementara Saudi Airlines menawarkan harga hampir Rp 42 juta.
“Kami berharap Saudi Airlines dapat menurunkan tarifnya agar setara dengan Garuda. Namun, mereka masih mempertahankan angka tersebut. Kami akan terus mengevaluasi untuk menemukan harga yang paling wajar,” ujar Gus Irfan.
Pemerintah berkomitmen untuk terus berupaya menekan biaya haji agar tidak memberatkan masyarakat. Gus Irfan mengindikasikan bahwa jika terjadi kenaikan biaya haji di masa mendatang, faktor utama pemicunya kemungkinan besar adalah kenaikan biaya penerbangan.
Penunjukan Maskapai untuk Haji 2027
Untuk penyelenggaraan haji 2027, pemerintah tetap menunjuk Garuda Indonesia dan Saudi Airlines. Keputusan ini diambil karena pendaftaran slot penerbangan ke otoritas Arab Saudi harus segera ditetapkan dalam tahun ini.
Gus Irfan menambahkan bahwa perubahan maskapai lain baru dapat dipertimbangkan untuk musim haji 2028. Sekitar 200 ribu jemaah haji Indonesia akan diangkut oleh kedua maskapai ini, dengan pembagian masing-masing 50 persen dari total kuota.
Persiapan Manasik dan Kesehatan Jemaah
Sebagai bagian dari persiapan haji 2027, program manasik haji secara nasional telah dimulai. Program ini bertujuan membekali calon jemaah dengan pemahaman mendalam mengenai rukun dan wajib haji, serta menekankan pentingnya menjaga kesiapan kesehatan sejak dini.
“Kami tidak ingin ada jemaah yang baru diketahui tidak layak terbang saat sudah berada di asrama haji. Kesehatan harus dipersiapkan dengan matang sejak awal,” tegas Gus Irfan.
Target Penurunan Angka Kematian Jemaah
Pemerintah juga menaruh perhatian serius terhadap penurunan angka kematian jemaah haji Indonesia. Gus Irfan mengungkapkan bahwa pada tahun 2025, tercatat sekitar 400 jemaah meninggal dunia, yang kemudian menurun menjadi sekitar 350 orang pada tahun 2026.
Untuk tahun 2027, pemerintah menargetkan penurunan angka kematian jemaah haji hingga maksimal 200 orang.
Konten belum tersedia.
Artikel ini belum memiliki isi yang dapat dibaca.

